Titihan
Malam ini saya punya kangsen atau kencan untuk wedangan bareng Prof. Tirto Prewito, senior dan pepundhen saya di kampus yang ahli komunikasi politik asal Pengging. Saya sampai di TKP lebih dulu dan langsung memesan ramuan teh ginasthel yang legendaris itu.
“Mboten mbakar lawuh, Pak?” tanya mbah Pujo, sang bos wedangan, sambil menyajikan pesanan saya.
“Nanti saja, Mbah,” jawab saya. “Masih nunggu Prof. Wito yang akan rawuh sebentar lagi.”
“Saya itu sering nggumun kalau melihat pak Prof. Wito itu lho, Pak,” kata mbah Pujo, “Ing atase sudah guru besar, tur lulusan luar negeri; kok gayanya masih gitu-gitu saja. Tindak ke mana-mana juga cuma trima nitih sepeda motor atau naik bis.”
“Wah, kalau itu kayaknya merupakan salah satu cerminan dari filosofi hidup beliau, Mbah,” jawab saya sambil mulai menyruput teh yang paling nikmat sakdonya itu.
“Pilosopi apa, Pak?”
“Filosofi padi, yang semakin merunduk ketika semakin berisi. Dan kalau dikaitkan dengan masalah kendaraan, Prof. Wito itu punya pandangan bahwa pilihan kendaraan itu terkait erat dengan masalah jati diri,” jawab saya.
“Lhadalah! Gek pilosopi napa ta niku, Pak? Saya kok belum pernah mendengar.”
Saya mulai bercerita bahwa bagi pepundhen saya itu, kendaraan atau alat transportasi bukan sekedar sarana untuk memindahkan kita dari satu titik geografis ke titik geografis yang lain; namun memiliki makna yang jauh lebih dalam. Pilihan kendaraan sebenarnya mencerminkan cara berpikir kita, apakah filosofis-ideologis atau pragmatis.
Saya teringat ketika kami masih sama-sama mengalami lara-lapa di negeri orang untuk studi lanjut, pak Wito selalu nitih pesawat Garuda untuk menempuh rute Indonesia-Australia pp. Padahal, seringkali harga tiket Garuda itu lebih mahal, dan kadang pelayanannya juga tidak sebagus maskapai penerbangan lainnya. Saya sendiri bersama teman-teman yang lain akan hunting untuk mencari tiket yang paling murah, tidak peduli apapun maskapai penerbangannya.
Waktu saya bertanya kepada pak Wito, beliau menjawab dengan kalimat yang klasik: “Kalau bukan kita, bangsa Indonesia, yang naik Garuda, lalu siapa? Kalau kita sendiri yang orang Indonesia tidak merasa harus menghargai dan menggunakan perusahaan milik bangsa sendiri, bagaimana mungkin bangsa lain akan respek kepada kita?”
Kemudian beliau mengambil kisah wayang kulit untuk memberi ilustrasi. Kalau di pewayangan, kendaraan atau titihan itu bagian dari identitas dan kepribadian penunggangnya. Misalnya, Prabu Baladewa akan selalu mengendarai gajah Kyai Puspadhenta, karena gajah itu adalah anugerah dari bapak angkatnya, yaitu Batara Brama. Ia tidak akan meminjam Garudha Wilmuka milik Prabu Boma, sekalipun mungkin travelling lewat udara akan lebih cepat dan lebih praktis daripada jalan darat.
“Tapi, bagi kebanyakan orang cara berpikir seperti itu agaknya sudah tidak laku, Mbah,” jawab saya. “Orang jaman sekarang cenderung pragmatis, mencari mudahnya, sing penting bisa kesampaian tujuannya. Pertimbangan historis, identitas, dan ideologis ditaruh di nomor ke sekian.”
“Lha inggih ta, Pak,” sambung mbah Pujo. “Kalau saya bepergian juga nggak milih-milih kendaraan, kok. Dulu mungkin saya selalu naik bis yang catnya merah, tapi karena sekarang yang cat hijau atau kuning itu lebih cocok harganya, ya saya milih ganti bis.”
“Kalau kendaraan politik apa ya bisa gonta-ganti seperti itu ya, Pak?” tanya mbah Pujo mulai usil.
Wah, mulai gawat dan menjurus nih pertanyaannya. Untunglah saat itu Prof. Wito sudah datang, menyingkap tenda warung sambil uluk salam.
“Lha itu Prof. Wito sudah rawuh. Sampeyan nyuwun priksa beliau saja.” kata saya berkelit dari pertanyaan mbah Pujo yang tendensius itu.
Versi yang sudah disunting oleh redaktur dari tulisan ini dimuat di Harian Suara Merdeka edisi Senin 31 Mei 2010.